SERANG, pilarbantennews.co.id – Gangguan sistem pemindai QR Code MyPertamina di SPBU 34.421.14, Jalan Raya Serang–Jakarta Km 7, Kota Serang, menuai keluhan keras dari konsumen. Seorang pengendara bernama Ben mengaku harus menunggu hingga satu jam untuk kembali melakukan transaksi BBM bersubsidi setelah barcode miliknya gagal dipindai.
Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (3/10/2026), ketika Ben hendak mengisi Pertalite dalam perjalanan pulang menuju Tangerang. Kondisi bahan bakar kendaraannya disebut sudah menipis.
Ben menilai mekanisme sistem yang secara otomatis mengunci transaksi selama satu jam justru membebani konsumen ketika gangguan terjadi pada proses pemindaian.
“Yang bermasalah sistemnya, tetapi konsumen yang harus menanggung akibatnya. Saya kehilangan kesempatan mengisi BBM dan malah harus menunggu satu jam,” ujar Ben.
Menurutnya, PT Pertamina Patra Niaga perlu menjelaskan secara terbuka mengapa kegagalan pemindaian QR Code dapat langsung berujung pada penguncian transaksi dalam waktu yang cukup lama.
Ia juga mempertanyakan kesiapan sistem Subsidi Tepat dalam menghadapi gangguan teknis di lapangan.
“Kalau sistem error, harusnya ada solusi cepat. Jangan konsumen yang menjadi korban dari gangguan sistem,” tegasnya.
Ben mendesak PT Pertamina Patra Niaga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem digital Subsidi Tepat, termasuk mekanisme ketika transaksi gagal akibat gangguan pemindaian.
Menurut dia, persoalan tersebut bukan sekadar masalah teknis di SPBU, tetapi menyangkut kualitas pelayanan kepada masyarakat yang bergantung pada sistem digital untuk memperoleh BBM bersubsidi.
“Pertamina harus menjelaskan apakah gangguan berasal dari sistem pusat atau ada persoalan operasional di SPBU. Kalau memang sistem pusat yang bermasalah, harus ada mekanisme khusus agar konsumen tidak dirugikan,” katanya.
Sementara itu, Pengawas atau Leader SPBU 34.421.14, Safarudin, membenarkan adanya jeda waktu ketika transaksi dinyatakan gagal. Menurutnya, penguncian tersebut merupakan mekanisme otomatis dari sistem.
“Kalau sistem dari sana gagal, memang menunggu satu jam. Takutnya diangkat, ditaruh lagi, di-scan lagi tidak bisa. Jadi paling menunggu. Semua juga sama,” jelas Safarudin saat dikonfirmasi wartawan.
Keterangan tersebut memperkuat pertanyaan mengenai sejauh mana kesiapan sistem Subsidi Tepat dalam menghadapi kegagalan transaksi di lapangan.
PT Pertamina Patra Niaga dinilai perlu memastikan gangguan teknologi tidak berubah menjadi persoalan pelayanan bagi masyarakat. Mekanisme backup, penanganan darurat, dan penyelesaian transaksi ketika sistem mengalami error menjadi hal yang perlu mendapat perhatian.
Sebab, bagi konsumen, gangguan sistem bukan sekadar persoalan teknis. Ketika kendaraan membutuhkan BBM dan transaksi justru terkunci, konsumenlah yang secara langsung merasakan dampaknya.
(Red)
Tidak ada komentar